KEBISUAN
Oleh: FAUZ NOOR
Pada era medsos dewasa ini, nampaknya kita mesti mempelajari gramatika kebisuan. Pada saat jutaan informasi berseliweran di jagat kita, ketika informasi begitu sukar ditakar kebenarannya, pada saat itu diam mungkin emas.
Komunikasi memang tak selamanya terjadi hanya karena dua mulut yang nyoroscos bersahut-sahutan. Itu sebanya dalam Ilmu Hadits kita mengenal taqrir, sesuatu yang “didiamkan” Nabi Saw, dan dipandang sebagai “persetujuan”. Inilah yang disebut dengan the eloquence of silence dalam buku Celebration of Awareness karya Ivan Illich. “Kata-kata dan kalimat terdiri atas diam yang lebih bermakna daripada bunyi,” ujar Illich.
Bahkan kita mencoba menggantikan bahasa dengan cara-cara yang lebih riuh, misalnya kegemaran kita kepada pengeras suara yang super, sampai mengumpulkan manusia berjuta-juta. Kita bukan saja menjadi tak acuh terhadap diam dan kebisuan, bahkan kita menjadi tak yakin bahwa kata-kata bisa bergerak sendiri dengan lirih.
Disinilah pentingnya “puisi”. Dalam puisi, kata-kata berbisik pada batin sendiri, menjadi satu catatan kekaguman - yang bersifat “pribadi” – terhadap cinta, alam, Tuhan, dan yang lainnya. Di tengah pikuk informasi yang meluber dewasa ini, percakapan dalam “diam”, keakraban dengan “diri”, seperti dalam puisi, yang bisa menyelamatkan kewarasan.
Di tengah pikuk ini, kita percaya, masih banyak para guru kita, mungkin di pojok-pojok sepi, di pesantren-pesantren sunyi nun jauh disana, para shalih yang tak kita kenal. Mereka menyibukan diri untuk bercakap-cakap dengan sunyi, melauti hening untuk meraih bening. Mereka tak mencari apapun, mereka telah “selesai” dengan dirinya sendiri, tak ada ambisi apalagi curang-diri. Di tengah malam mereka berdiri, kumandangkan takbir, alirakan dzikir, melebihi syair dan pikir. Dan karena doa-doa mereka, Sang Sunyi pun masih menjaga Indonesia [ ].
Cuplikan dari buku Marginalia 1


0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda