https://koberannida.blogspot.com/ EDUKASIA: Desember 2018

Senin, 10 Desember 2018

BERSATU KITA MULIA

WILDAN TAUFIQ



Seusai pengajian sore, terjadi keributan di depan asrama putra A-FALAH. Ternyata Si Murod dan Usep berantem. Kata teman mereka awalnya mereka adu mulut setelah pertandingan bola tadi pagi pada pertandingan sepak bola antar asrama dalam memeriahkan "haflah rojabiyah" d lapang Cimerah. Mereka berdua ada dalam satu team. Ketika gawang mereka kebobolan, sebagai bek, Murod disalahkan oleh Usep karena lengah menghadang striker lawan. Sedang Usep sebagai penjaga gawang disalahkan oleh Murod karena tidak becus menangkap bola, padahal tendangan lawan tidak begitu keras.
Itulah asal mula keributan antar mereka berdua, yang berujung adu jotos pada sore itu. Aku sebagai mudabbir (pengurus) di asrama langsung melerai mereka.
Aku :”He..he..apa-apaan kamu berdua ini?”
Murod :”Kang si Usep menyalahkan saya terus tak bisa maen sepak bola.”
Usep :”Bukan Kang, justru dia yang menghina saya gak becus jadi kiper.”
Aku :”Sudah. sudah. Semuanya salah. Dalam permainan team –jika terjadi kekalahan- tidak bisa disalahkan salah seorang pemain. Kalau kalah, berarti semua pemain juga salah termasuk pelatihnya. Sekarang apa yang kalian pegang?”
Usep & Murod:”Kitab Jurumiyah Kang.”
Aku :”Coba baca oleh kalian ciri i’rob rofa yang pertama!”
Usep & Murod:”Faammadh dhamatu fatakuunu ‘alaamatan lirrof’i.”
Aku :”Apa artinya?”
Usep & Murod:”Dhomah adalah ciri rofa”.
Aku :”Betul. Itu makna secara nahwu. Namun di balik redaksi itu ada makna yang sangat dalam. Dhommah ‘bersatu’ merupakan tanda rofa ‘kemuliaan’. Yang akan bersatu hanyalah orang-orang yang mulia dan terhormat. Jika kita ingin menjadi orang mulia dan terhormat, maka pakailah akal kita. Orang yang menggunakan akalnya hidupnya akan hati-hati dalam bertindak karena hidupnya tidak mau merugikan orang lain. Ia akan bisa mengendalikan emosinya. Dan ia sangat sadar bahwa semua yang menimpa pada dirinya adalah akibat dari apa yang diperbuatnya, tidak mencari-cari kambing hitam. Paham?”
Usep & Murod:”Paham Kang”
Aku :”Sekarang, berdamailah. Ayo salaman!”

KEBISUAN

Oleh: FAUZ NOOR


Pada era medsos dewasa ini, nampaknya kita mesti mempelajari gramatika kebisuan. Pada saat jutaan informasi berseliweran di jagat kita, ketika informasi begitu sukar ditakar kebenarannya, pada saat itu diam mungkin emas.
Komunikasi memang tak selamanya terjadi hanya karena dua mulut yang nyoroscos bersahut-sahutan. Itu sebanya dalam Ilmu Hadits kita mengenal taqrir, sesuatu yang “didiamkan” Nabi Saw, dan dipandang sebagai “persetujuan”. Inilah yang disebut dengan the eloquence of silence dalam buku Celebration of Awareness karya Ivan Illich. “Kata-kata dan kalimat terdiri atas diam yang lebih bermakna daripada bunyi,” ujar Illich.
Bahkan kita mencoba menggantikan bahasa dengan cara-cara yang lebih riuh, misalnya kegemaran kita kepada pengeras suara yang super, sampai mengumpulkan manusia berjuta-juta. Kita bukan saja menjadi tak acuh terhadap diam dan kebisuan, bahkan kita menjadi tak yakin bahwa kata-kata bisa bergerak sendiri dengan lirih.
Disinilah pentingnya “puisi”. Dalam puisi, kata-kata berbisik pada batin sendiri, menjadi satu catatan kekaguman - yang bersifat “pribadi” – terhadap cinta, alam, Tuhan, dan yang lainnya. Di tengah pikuk informasi yang meluber dewasa ini, percakapan dalam “diam”, keakraban dengan “diri”, seperti dalam puisi, yang bisa menyelamatkan kewarasan.
Di tengah pikuk ini, kita percaya, masih banyak para guru kita, mungkin di pojok-pojok sepi, di pesantren-pesantren sunyi nun jauh disana, para shalih yang tak kita kenal. Mereka menyibukan diri untuk bercakap-cakap dengan sunyi, melauti hening untuk meraih bening. Mereka tak mencari apapun, mereka telah “selesai” dengan dirinya sendiri, tak ada ambisi apalagi curang-diri. Di tengah malam mereka berdiri, kumandangkan takbir, alirakan dzikir, melebihi syair dan pikir. Dan karena doa-doa mereka, Sang Sunyi pun masih menjaga Indonesia [ ].
Cuplikan dari buku Marginalia 1